Home Kabar Kabar Daerah Surat Terbuka Untuk Bu Anna Muawanah

Surat Terbuka Untuk Bu Anna Muawanah

5746
0
Foto : Dokumentasi istimewa

Surat Terbuka Untuk Bu Anna Muawanah

Oleh : Ahmad Sholikin*

SEBELUM saya menyampaikan surat ini, ijinkan dulu saya untuk memperkenalkan diri saya. Saya Ahmad Sholikin Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada yang nyambi ngajar di Prodi Ilmu Politik salah satu Perguruan Tinggi Swasta, asli kelahiran Desa Miyono, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan “Minal Aidin Wal Faidzin – Sugeng Riyadin – Mohon Maaf Lahir dan Bathin” terlebih dahulu kepada Bu Anna. Tujuan saya menulis surat ini adalah konsekuensi logis saat Bu Anna menjadi Bupati Bojonegoro maka Ibu juga memilih kami sebagai orang yang akan ibu pimpin dalam 5 tahun ke depan. Sebagai seorang warga negara (demos), maka kami memiliki kewajiban untuk ikut serta dalam mengelola bagaimana proses penyelenggaraan pemerintahan ini berlangsung. Sebagai “demos” kami bertugas untuk mengawasi dan mengontrol bagaimana kekuasaan (power) ini dikelola di Bojonegoro.

Selamat Pagi Bu Anna, mungkin di Inggris saat ini tidak sedang pagi, tetapi saya ingin mengucapkan selamat pagi karena saya harap saat ibu membaca surat ini di saat pagi waktu di Inggris sambil duduk manis minum kopi bersama Suami serta beberapa staf yang ikut lawatan ke Inggris.
Saya sebenarnya sudah lama ingin menulis surat ini kepada ibu, tetapi mungkin baru saya sempatkan setelah melihat di media sosial akhir-akhir ini sedang viral bahwa Ibu beserta Suami dan beberapa staf sedang melakukan kunjungan ke Inggris dalam rangka memenuhi undangan dari Young Indonesian Professionals Association (YIPA) dengan Tema Kegiatan “Investment Promotion in Oil & Gas Oppurtunities within Bojonegoro dan Tourism Promotion-Be in Bojonegoro” dalam rangka promosi ke London untuk tingkatkan PAD Bojonegoro, sungguh tujuan yang sangat mulia sekali.

Oh iya Bu Anna, sebenarnya tidak ada masalah dengan lawatan Ibu ke Inggris yang menghabiskan dana APBD sebesar Rp.954.882.012, walaupun itu adalah plafon tertinggi. Karena kunjungan luar negeri merupakan hal yang biasa saja bagi para pejabat publik baik eksekutif dan legislatif di seluruh Indonesia. Tetapi ya seperti itulah Bu, jaman sekarang apapun yang dilakukan oleh pejabat publik akan selalu menjadi konsumsi publik. Dikit-dikit viral, beda dikit viral, aneh dikit viral, nyleneh dikit viral, marah-marah viral, ngasih-ngasih sepeda viral. Jadi Bu Anna jangan khawatir dinikmati kunjungan ke Inggrisnya, karena pasti Bu Anna butuh udara segar untuk sekedar refreshing ditengah hirup-pikuknya perpolitikan negeri yang sedang carut marut ini.

Sejak Pilkada Serantak 2018 hingga Bu Anna dilantik jadi Bupati, Ibu sudah melewati masa kampanye yang sungguh luar biasa brutal dan sengitnya. Apalagi dengan kultur Pilkada di Bojonegoro yang sangat kental dengan bagi-bagi uang, selain capek fisik ibu juga pasti capek secara materiil. Setelah menjadi Bupati Ibu juga masih harus menghadapi Pemilu Serentak 2019 dan ikut mengkonsolidasikan Presiden Jokowi yang di dukung oleh Partai Ibu. Selain itu ibu juga harus membantu Mbak Ratna Juwita dan Mbak Farida Hidayati untuk melenggang ke Senayan. Tidak cukup disitu Bu Anna juga harus membantu para caleg DPR-D Bojonegoro dari PKB untuk bisa dominan di legislatif Bojonegoro.

Saya ucapkan selamat kepada Ibu, karena usaha yang Bu Anna lakukan tidak sia-sia. Mbak Ratna Juwita dan Mbak Farida Hidayati melenggang ke Senayan dan Dari proses rekapitulasi hasil penghitungan suara, ternyata Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menguasai keseluruhan Daerah Pemilihan (Dapil) yang ada di Bojonegoro mulai dari Dapil 1 hingga 5. Hasil ini akan membuat seluruh kebijakan yang Ibu lakukan akan berjalan lancar dan mulus, dukungan dari DPR-RI dan mayoritas legislatif di DPR-D Bojonegoro akan membuat pemerintahan Ibu menjadi kuat dan stabil. Apalagi dengan APBD Bojonegoro di tahun 2019 diprediksi bisa tembus di angka Rp 5 triliun. Kenaikan ini diperkirakan dari DBH Migas yang meningkat drastis. Hal ini bisa terjadi karena DBH Migas untuk Bojonegoro naik menjadi Rp 2,6 triliun, ditambah dengan pendapatan DBH Migas Triwulan IV sebesar Rp 300 miliar. Maka jika ditambah dengan SILPA tahun anggaran 2018 sekitar Rp 500 miliar maka jumlah APBD Bojonegoro tahun 2019 bisa mencapai Rp 5,7 triliun. Dengan APBD sebanyak ini dan dukungan politik yang kuat maka akan sangat menguntungkan secara politik dan ekonomi bagi Bu Anna.

Menurut saya tidak ada masalah yang serius dari kunjungan Bu Anna ke Inggris, karena semua proses administrasi dan regulasinya sudah dilakukan sebagaimana persyaratan kunjungan ke luar negeri, baik ijin dari Gurbenur Jawa Timur maupun kementrian dalam negeri yang rekomendasinya di turunkan oleh kementrian Sekretaris Negara. Yang menjadi permasalahan adalah saat Bu Anna mengajak sang suami ikut serta dalam lawatan tersebut. Hal tersebutlah yang membuat hati ini teriris-iris Bu Anna, kami para pasangan muda yang sedang berjuang untuk membangun rumah impian dari gaji yang pas-pasan merasa iri dan perih hati ini melihat Bu Anna melakukan kunjungan ke Inggris. Jangankan melakukan plesiran Bu, kami untuk beli cabe dan lombok saja harus peras keringat dari jam 08:00 hingga 16:00 dibawah terik matahari. Belum lagi bagaimana perasaan para jomblowan dan jomblowati yang setiap menjelang lebaran selalu ditanya kapan kawin — kapan kawin terus. Hal itulah menurut saya yang membutuhkan sedikit empati dari Bu Anna, mbokyao kalau ada perjalanan dinas atau apapun yang menggunakan dana APBD jangan dengan diikut sertakan baik suami dan anaknya, walaupun mereka tidak menggunakan dana APBD. Karena ini masalah perasaan Bu Anna, tidak bisa diganti dengan hal apapun.

Ah satu lagi Bu, mumpung ingat. Walaupun Bapak Ali Dufa berangkat dengan uang sendiri tanpa menggunakan APBD seperti Ibu dan beberapa staf yang lain, tetapi saya biasanya saat plesiran bersama istri di Khayangan Api, Bukit Cinta, Alun-alun Bojonegoro, Taman Rajekwesi, Wana Wisata Dander, Kebun Blimbing, Kedung Maor, Grojogan Pucang, Gunung Kendil seluruh uang dipegang oleh istri saya. Dan saat uang dipegang istri saya, saya biasanya minta barang-barang yang unik, aneh dan langka milik tempat dimana saya dan sang istri plesiran. Tapi apalah itu, saya dan istri yang bukan pejabat publik dan plesiran paling jauh yang di Bojonegoro-Bojonegoro saja. Maka saya doakan semoga Suami ibu tidak seperti saya yang suka minta dibelikan barang-barang unik, aneh dan antik dari Negeri Ratu Elisabeth, kerena sudah bisa dipastikan itu mahal.

Oh iya Bu Anna, ini ada titip pesan dari Bapak saya dan beberapa warga di Kecamatan Sekar yang pada saat Ibu Anna kampanye dulu sempat membagi-bagikan prototype KPM (Kartu Petani Mandiri) Plus, tetapi sampai saat ini Bapak saya belum dapat manfaatnya. Bu Anna harus mengetahui bahwa di Kecamatan Sekar saat ini sedang masa kering-keringnya Bu. Maka Kartu Petani Mandiri Plus itu mungkin bisa membantu para petani di Kecamatan Sekar yang sedang berjuang menghadapi kekeringan. Jangankan untuk mengairi sawah Bu, untuk kebutuhan air sehari-hari saja susah.
Selain itu juga terkait dengan program Bu Anna terkait perbaikan jalan, jembatan dan infrastruktur dan PJU (Penerangan Jalan umum). Perlu diketahui oleh Bu Anna, jalan-jalan di Sekar sudah mulai rusak parah Bu Anna, bahkan mungkin ada jalan yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh program pembangunan pemerintah sama-sekali. Maka daripada Bu Anna berencana membangun dan melebarkan jalan Bojonegoro menuju Babat dengan dana APBD, alangkah lebih baiknya Bu Anna fokus pada pembangunan jalan-jalan akses antar Kecamatan dan Desa di Bojonegoro.

Maka sekali lagi, tujuan dari surat ini adalah supaya Ibu Anna lebih berempati lagi dengan kami. Mengutip gagasan Kevin Olson (2006) dalam karya monumentalnya, Reflexive democracy: Political Equality and the Welfare State, pemikiran politik kontemporer mengalami krisis ketika variabel kesejahteraan absen dalam diskursus demokrasi. Ia menjelaskan, untuk mengintegrasikan kesejahteraan dalam diskursus demokrasi maka menjadi hal yang esensial kiranya menggeser cara pandang kita tentang kesejahteraan. Maka kini saatnya para elite politik mewujudkan cita-cita Pancasila Sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia demi menjamin kelangsungan eksistensi demokrasi. Jika tugas suci gagal diwujudkan, bukan tidak mungkin demokrasi Indonesia akan segera mengalami kebangkrutan akibat terus menurunnya tingkat kepercayaan publik pada kinerja Pemerintahan. Dan tujuan itu bisa dicapai ketika setiap pemimpin politik di Negeri ini memiliki empati yang tulus kepada “demos” dan “demos” menjalankan fungsi kritisnya dalam berempati kepada pemimpinnya.

Oh satu lagi Bu Anna, mumpung Ibu di London saya ingin nitip dibelikan jersey liverpool karena saya adalah seorang Liverpudlian. Kalau bisa mintakan tanda tangan sekalian ya Bu ke para pemain Liverpool yang kemarin habis menjadi Raja di Eropa (wabil khusus Steven Gerrard). Itu juga kalau ibu mampir di Kota Liverpool, habisnya Humas di Pemkab tidak menyampaikan rundown kegiatan Ibu selama 7 hari di Inggris tersebut. Kalaupun tidak sempat mampir ke kota Liverpool setidaknya bisa lah di carikan di distro-distro terdekat tempat Ibu menginap. Pasti ori semua jersey nya, saya sudah bosen bu beli jersey KW terus. Mumpung Ibu disana nitip belikan ya Bu, jangan khawatir nanti uangnya saya ganti.

Sebagai akhir dari Surat ini saya ingin mengucapkan “Bahal” kepada Bu Anna seperti yang diajarkan oleh orang tua saya “Bu Anna kulo ngaturaken sedoyo kalepatan kulo, tindak sepecak, rembak sekelimah, engkang kulo sengojo lan mboten kulo sengojo, mugi-mugi gusti Alloh saget ngapuro duso kulo lan panjenengan sedinten riyadin puniko”. Kemudian biasanya orang tua saya akan mendoakan balik kebaikan kepada saya dan saya harap Bu Anna pun

demikian. Dan akan saya jawab dengan “ Amin Ya Robbal Alamien”.

* Penulis adalah Anggota Ranting Pemuda Muhammadiyah Kec. Sekar

Editor : DeBe.wiraswara

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here