Home Kabar Opini Memaknai Kemerdekaan

Memaknai Kemerdekaan

362
0
M. Yazid Mar'i, ilustrasi

Memaknai Kemerdekaan

Oleh: M. Yazid Mar’i

TUJUAN kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam preambule UUD 194 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia.

Tujuan ini tentu tidaklah hanya berlaku saat itu, melainkan saat ini, dan esok, sepanjang zaman, sepanjang negeri yang bernama Indonesia, sepanjang merah putih masih berkibar di seluruh pelosok Nusantara.

Cita-cita para pendiri bangsa ini, tentu harus juga menjadi cita-cita para pemimpin di negeri ini dan dalam setiap tingkatan pemerintahan serta para penguasa.

Jika tidak tentu dapat disebut telah keluar dan melenceng dari rel kemerdekan dan berkhianat terhadap cita-cita kemerdekaan.

Presiden Pertama Indonesia, Sukarno saat pidato peringatan HUT RI pada 17 Agustus 1965, memaknai kemerdekaan dalam tiga prinsip yaitu berdaulat dalam bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan yang dilakukan dan diupayakan secara “berdikari” berdiri di atas kaki sendiri, dan sejauh mungkin menghindari ketergantungan dengan bangsa lain.

Makna yang mendasar dari pernyataan Beliau adalah bahwa kemerdekaan yang telah diupayakan sendiri oleh bangsa Indonesia, maka juga harus dikelola oleh bangsa sendiri. Maka konsekuensinya adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”, artinya kualitas “human resources” yang mestinya sejak awal menjadi preoritas pembangunan bangsa. Karena hanya dengan itu kita dapat mengolah sendiri “natural tesources” kita, dan bukan sebaliknya menyerahkannya untuk dikelola oleh orang lain. Dan “pendidikan” menjadi kata kuncinya.

Maka pengelolaan dan menyerahkan sebagian dari aset-aset ekonomi negara dalam kurun waktu terakhir, hanyalah akan mengancam kedaulatan ekonomi bangsa, yang jauh hari sudah diperingatkan para pendiri bangsa.

Lalu pendidikan yang seperti apa? Jawabnya adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya bangsa (berketuhanan, berkemanusiaan, nasionalisme, demokrasi, dan berkeadilan sosial).

Kemerdekaan juga bermakna “kesetaraan”, yaitu menghilangkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, menciptakan tatanan masyaarakat yang sederajat. Memuliakan antara satu sama lain, kesetaraan, tidak ada kelas dalam masyarakat, masing-masing memiliki hak sebagai bangsa tanpa membedakan kultur dan kelasnya. Ini menjadi penting agar setiap warga Indonesia memiliki kebebasan berekspresi, kebebasan berkreasi, atau dalam makna lain tidak ada satupun dari bangsa ini, termasuk penguasa membatasinya. Karena pembatasan dengan dan atas nama apapun adalah bentuk-bentuk penjajahan dan keluar dari ruh kemerdekaan.

Selain itu tak ada satupun yang merasa paling berhak memiliki negeri ini, bangsa ini, yang telah diperjuangkan secara bersama-sama.

Hip cafe malam, 8 Agustus 2019

Penulis: M.Yazid Mar’i, Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Insani (LPPSDI) Bojonegaro.

Editor: DeBe wiraswara

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here