Home Kabar Cerita Singkat ” Asal Usul Dukuh Plosolanang “, Dipersembahkan Warga Dalam Pawai...

Cerita Singkat ” Asal Usul Dukuh Plosolanang “, Dipersembahkan Warga Dalam Pawai Budaya HJB Ke-340 

36183
0
Pemuda-pemudi Dukuh Plosolanang yang ikut dalam pawai budaya HJB Ke-340 berfoto didepan Replika Pohon Ploso

​Penulis : Pegiat Budaya Dukuh Plosolanang
DUKUH PLOSOLANANG adalah salah satu wilayah bagian dari Desa Campurejo yang diberikan nama dukuh atau dusun, wilayah tersebut berada sebelah timur Desa Campurejo kecamatan Kota, kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Berjarak kurang lebih 3 km, dari pusat kota dan alun-alun kota Bojonegoro. Dahulu sebelum terbentuknya dukuh Plosolanang konon menurut cerita ditempat tersebut terdapat sebuah bangunan pesantren yang didirikan oleh sesepuh yang bernama Eyang Sidomulyo.

Eyang Sidomulyo sendiri menurut silsilahnya adalah cucu dari Sunan Drajad yang ikut serta dalam menyebarkan agama islam. Pada mulanya pesantren yang didirikan oleh Eyang Sidomulyo terletak dibagian selatan, yang diberikan nama ” Kedung Santren “. Namun dengan berjalannya waktu dikarenakan wilayah bagian selatan tersebut sering terjadi banjir maka kedung santren ini berpindah lokasi di tengah suatu daerah.

Dalam menyebarkan agama islam, Eyang Sidomulyo di dukung oleh anggota keluarganya. Dalam hidupnya Eyang Sidomulyo mempunyai istri yang bernama Baya Saroh, dari hasil pernikahannya dikaruniakan keturunan 2 ( dua ) anak yakni Aji Wiroguno dan Muamanah. Aji Wiroguno sendiri mempunyai keturunan yang bernama Dewi Maimunah.

Dewi Maimunah dalam kisah hidupnya mempunyai 7 ( tujuh ) keturunan diantaranya Mursadak, Mursidi, Mursodo, Mursaid, Surtiati, Surtikanti, dan Dewi Nuraini. Selain keluarga yang selalu mendukung perjuangan Eyang Sidomulyo, beliau juga memiliki pengikut santri yang setia. Para santribyang setia mengikuti perjuangan Eyang Sidomulyo tersebut bernama Joko Badek, Joko Umbaran, Joko Segondo, Dewi Mekarsari, dan Citro Kusumo.

Pada masa itu terjadi perang Belanda  yang menyebabkan penduduk Kedung Santren berpindah tempat ke daerah Sedayu sehingga pada saat itu hanya menyisakan 11 kepala keluarga (KK). Selanjutnya pada tahun 1911 wilayah yang awalnya bernama ” Kedung Santren ” diubah menjadi ” Plosolanang “.

Nama Plosolanang tersebut diresmikan oleh salah satu sesepuh yang menjadi tokoh pada saat itu yaitu Mbah Saridi, Mbah Kasmadi, dan Mbah Samadi. Nama Plosolanang diambil dari nama sebuah pohon Ploso yang tumbuh di wilayah tersebut dengan hanya memiliki satu helai daun dalam setiap tangkainya. Penduduk asli dukuh Plosolanang (pribumi) memiliki mata pencaharian mayoritas sebagai petani, dari bertani dan hasil panen seperti padi, jagung, singkong, dan berbagai macam palawija. Dengan berjalannya waktu saat ini masyarakat dukuh Plosolanang menjadi masyarakat yang tumbuh dengan makmur, tentram, dan sejahtera.(*/redaksi)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here